Puluhan Ayam Mati Mendadak Di Weru Cirebon

hati-hati flu burung di weru cirebon
Seperti yang terjadi di Blok Kawung RT 19,20 dan RW 04 Desa Megu Gede Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon beberapa hari yang lalu, dimana terdapat puluhan ekor ayam milik penduduk yang tiba-tiba mati mendadak, padahal sebelumnya kondisi ayam tersebut dalam keadaan sehat.

Masyarakat harus waspada dan hati-hati terhadap flu burung, virus H5N1 ini dapat menular melalui makanan, minuman, maupun sentuhan. Selain itu, virus ini juga dapat menyebar malalui udara.

Gejala umum yang biasa ditemukan bagi penderita yang terjangkit virus ini diantaranya terjadinya demam tinggi, keluhan pernapasan dan keluhan di perut, penyebaran virus ini dapat berjalan cepat menjalar ke tubuh sehingga pasien perlu segera mendapatkan perhatian medis.

Salah satu cara untuk menghindari terjangkitnya virus ini adalah dengan menjaga kebersihan badan, rumah, lingkungan dan bagi yang memiliki hewan ternak, diharuskan juga agar dapat dibersihkan kandangnya secara berkala.

Dugaan awal dari matinya ayam-ayam itu dikarenakan virus flu burung dimana terdapat ciri-ciri yang mengarah ke arah sana, beberapa ciri dari kematian hewan tersebut diantaranya badanya yang berwarna hitam kebiru-biruan.

Baca Selengkapnya >>
Hobi Burung Kicau Mania | Komunitas Pecinta Hobi Burung BerkicauUpdated at: 00.56

Ratusan Habitat Burung Di Hutan Terancam Punah

ratusan habitat burung di hutan kian hilang
Habitat ratusan burung di Indonesia kini terancam punah. Banyak faktor yang menyebabkan Habitat Burung terancam punah salah satunya adalah tangan jahil manusia.

Menyempitnya habitat asli ratusan burung menyebabkab burung yang tersebar hampir di seluruh Indonesia terancam tidak dapat melangsungkan reproduksi secara wajar.

Beberapa jenis burung seperti Jalak Bali, Elang Jawa adalah salah satu contoh burung yang jumlahnya terus menerus mengalami penurunan. Sebut saja Jalak Bali di habitat aslinya, hewan yang kerap dijadikan sebagai hewan peliharaan ini sangat rawan perburuan sehingga populasinya diperkirakan tinggal belasan.

Selain itu, kerusakan lingkungan yang masih terjadi di Taman Nasional Bali Barat turut menghambat pertumbuhan populasi burung ini. Tidak mengherankan bila survei terbaru yang dilakukan awal tahun 2005 hanya menemukan lima ekor jalak bali di alam.

Faktor yang menentukan keberadaan burung adalah ketersediaan makanan, tempat untuk istirahat, bermain, kawin, bersarang, bertengger dan berlindung.

Kemampuan areal menampung burung ditentukan oleh luasan, komposisi dan struktur vegetasi, banyaknya tipe ekosistem dan bentuk areal serta keamanan.

Untuk mengurangi kepunahan ratusan burung di hutan sebaiknya kita juga harus menjaga kelestarian ekosistem dan lingkungan sehingga mampu hidup di habitat alami dan mudah berkembang biak, serta berkomunikasi dengan pemerintah yang menangani kepunahan habitat para burung seperti Departemen Kehutanan.

Baca Selengkapnya >>
Hobi Burung Kicau Mania | Komunitas Pecinta Hobi Burung BerkicauUpdated at: 00.14

Maleo Burung Langka Dari Sulawesi

Maleo, Burung Langka Dan Unik Khas Sulawesi
Satu lagi kekayaan jenis burung di Indonesia yang mengagumkan, sekilas memang tampak seperti ayam, tetapi memang benar binatang ini adalah sejenis unggas.dan unggas ini adalah spesies satu-satunya didunia dari Genus Macrocephalon, dan hanya bisa ditemui di negara Indonesia, yaitu di pulau Sulawesi.

Namanya Macrocephalon maleo, biasanya dikenal dengan nama Burung Maleo atau Maleo Senkawor. Burung Maleo adalah endemik pulau Sulawesi.

Burung Maleo termasuk unggas dengan ukuran tubuh sedang, sekitar 55 cm panjangnya, besar di bagian tubuhnya dan mengecil di bagian kepala, dengan warna dominan hitam, dan putih di bagian dadanya.

Tubuh yang besar dan kepala yang kecil berfungsi saat Maleo beristirahat, juga saat bersembunyi ditanah dari ancaman predator.

Kakinya berkuku dan berselaput, namun bukan untuk berenang melainkan untuk menggaruk tanah. Tetapi ciri yang paling cepat dan mudah untuk mengenalinya adalah batok kepalanya yang hitam mengkilat.

Maleo banyak menghabiskan hidupnya di darat, karena makanannya seperti serangga, semut, dan biji-bijian. Namun juga berpindah dari pohon ke pohon, untuk menghindari predator. Maleo tidak hidup secara berkelompok, tetapi sepanjang hidupnya dilewatkan dengan satu-satunya pasangannya.



Burung Maleo adalah penghuni hutan tropis di sekitar pantai yang berpasir hangat, atau juga di hutan pegunungan yang dekat dengan sumber mata air panas.

Tanah hangat dengan suhu antara 32-35 oC adalah syarat utama habitat mereka, dan untuk menemukan tempat yang cocok, Maleo mengandalkan sensor panas yang terdapat pada tonjolan kepalanya. 

Pemilihan habitat yang unik ini sebenarnya ada hubungannya dengan perilaku reproduksi Maleo. Meskipun tergolong hewan monogami yang setia dengan pasangannya sampai mati, namun Maleo justru tidak setia pada telurnya sendiri.

Maleo tidak mengerami telurnya sendiri melainkan dikubur dalam tanah atau pasir yang cukup hangat, biasanya, di titik yang memiliki suhu cukup hangat Maleo menggali lubang sedalam 30-50 cm, lalu meletakkan telurnya dan menutupnya kembali dengan tanah sekitar 10-15 cm diatas telur.

Memang tidak ditutup sepenuhnya agar ketika telur menetas si Maleo junior bisa keluar dari tanah. Nah, anak Maleo ini berusaha sendiri untuk bisa keluar dari timbunan tanah, dan langsung bisa terbang dan mencari makanannya tanpa bantuan sang induk.

Hal mengagumkan lainnya adalah telurnya yang cukup besar, kurang lebih sekitar 240-270 gram beratnya dan 11 cm panjangnya, sekitar 4 atau 5 kali besar telur ayam.

Akan tetapi, karena perubahan bumi dewasa ini, Maleo sudah tergolong sebagai hewan langka dan terancam punah. Hal ini juga disebabkan karena perburuan oleh manusia, untuk dikonsumsi daging dan telurnya, juga permbukaan lahan.

Ada sebuah kepercayaan dari budaya setempat, yaitu ketika seseorang telah mendirikan rumah, maka dibawah rumah yang baru saja dibangun tersebut wajib dikubur satu telur Maleo. Dengan harapan rumah tersebut dapat berumur panjang dan berdiri dengan kokoh.

Maka saat ini sangat sedikit Maleo yang bisa ditemui di habitat asli. Menurut penelitian, Maleo berasal dari benua Australia, tapi kenyataannya sekarang Maleo hanya ada di pulau Sulawesi.

Oleh karena itu bagi anda yang berwisata ke Sulawesi, dan ingin menjenguk unggas langka ini, anda hanya bisa menemuinya di Sulawesi Tengah, di penangkaran yang dibangun dengan tujuan mejaga kelestarian burung unik ini. Misalnya di  Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Donggala, yaitu di Cagar Alam Saluki, atau di Taman Nasional Lore Lindu dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Untuk tujuan yang sama, disarankan jangan membawa pulang telur Burung Maleo ya
gocelebes

penasaran baca laptop si unyil
Baca Selengkapnya >>
Hobi Burung Kicau Mania | Komunitas Pecinta Hobi Burung BerkicauUpdated at: 23.42

Seorang Polisi Tewas Akibat Cari Burung

Naas benar nasib polisi ini. Dia tewas saat sedang mencari burung di sawah. Kakinya terpeleset dan tersetrum kawat beraliran listrik yang digunakan untuk menjebak dan membasmi tikus.

Korban adalah Wawan Adrianto. Perwira berpangkat AKP yang berdinas di Satuan Brimob Medaeng, Waru.

"Memang benar ada kejadian tersebut. Korban adalah seorang anggota Brimob Medaeng yang baru saja naik pangkat," kata Kapolsek Taman Kompol Eddy Siswanto saat dihubungi detikcom, Minggu (5/1/2014).

Dari informasi yang dihimpun, peristiwa pada Sabtu (4/1/2014) dini hari tersebut terjadi di persawahan Dusun Tanjunganom, Desa Tanjungsari, Taman. Saat itu korban bersama adiknya, Erry Kusmanendra, sedang mencari burung.

Saat itu korban hendak menembak burung yang diincarnya, tiba-tiba kakinya terpeleset dan jatuh ke sawah. Sialnya, kaki korban mengenai kawat yang teraliri listrik. Kawat itu adalah jebakan untuk membasmi tikus sawah.

Korban yang baru saja naik pangkat dari Iptu ke AKP itu tersengat aliran listrik dan langsung terkapar. Erry yang melihat itu segera berteriak minta tolong.

Warga yang mendengar teriakan itu segera mematikan aliran listrik dan membawa korban ke Rumah Sakit Anwar Medika. Dari RS Anwar Medika, korban dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim. Sayangnya nyawa korban tak terselamatkan.

detiknews
Baca Selengkapnya >>
Hobi Burung Kicau Mania | Komunitas Pecinta Hobi Burung BerkicauUpdated at: 21.58

Harga Burung Ratusan Juta Karena Menang Lomba

menang kontes harga burung mencapai ratusan juta
Mahalnya seekor burung kicau di pasaran terkadang tidak masuk akal. Bayangkan saja, untuk satu jenis murray batu harganya mencapai Rp 350 juta atau setara sebuah mobil SUV. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Hari (42), pedagang di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur, menjelaskan biasanya harga burung bisa melambung tinggi karena pernah menang perlombaan. Selain itu, tentunya perawatan sang pemilik untuk mempertahankan kualitas burung.

"Kalau sudah pernah juara kontes ya bisa tinggi harganya. Bagaimana yang punya aja ngerawatnya," ujarnya di pasar tersebut, Jakarta, Rabu (4/12).

Hal senada juga disampaikan oleh seorang kicau mania, Budi, yang membenarkan tentang tingginya harga burung karena kontes. Bahkan kalau lombanya kelas nasional, harga burung bisa melambung.

"Kaya kontes piala raja 2013 kemarin, isu yang berkembang pas lomba malah bisa Rp 500 jutaan," ujar kepada merdeka.com

Ia menyarankan, agar berhati-hati jika membeli burung yang sudah sering menang kontes. Resiko burung itu sakit atau mati bisa saja terjadi.

"Kalau beli burung jadi atau yang udah menang, hati-hati saja. Karena kalau itu kan ngerawatnya sudah beda tangan, takutnya dia sakit. Kalau nggak bener malah bisa mati," jelasnya.

Sebenarnya, lanjut Budi, tidak hanya burung saja yang bisa seperti itu. Pelihara binatang apapun kalau perawatannya kurang ditangani dengan baik juga bernasib sama.

Baca Selengkapnya >>
Hobi Burung Kicau Mania | Komunitas Pecinta Hobi Burung BerkicauUpdated at: 22.59

Silvereye Zosterops Lateralis Monty Selandia Baru

Silvereye Zosterops lateralis montanus dari selandia baru
Burung ini jika kita perhatikan tidak jauh dan seperti monty atau sebut saja Montanus nama latinnya adalah The Silvereye atau Wax-eye (Zosterops lateralis).

Di Australia dan Selandia Baru nama burung pada umumnya kadang-kadang disingkat menjadi White-eye, tapi nama ini lebih sering digunakan untuk merujuk kepada semua anggota genus Zosterops , atau seluruh keluarga Zosteropidae .

Burung Silvereye sendiri ditemukan pada 1832 namun baru berkembang populasinya tahun 1856. Burung imut berukuran 11-13 cm ini tercatat memiliki masa hidup hingga 12 tahun. Makanan mereka bermacam-macam mulai dari buah, sari bunga hingga serangga kecil.

Silvereye Zosterops lateralis
Burung Mirip Angry Bird

Burung sebasar burung monty atau montanus ini, ukurannya kecil 11 sampai 13 cm dan sekitar 10 g berat badan, ia memiliki cincin mencolok bulu putih di sekitar matanya.

Ada sejumlah variasi bulu tergantung pada sub-spesies. Umumnya memiliki sayap zaitun hijau dan baik abu-abu atau zaitun-hijau kembali, tenggorokan berwarna ringan - kuning atau abu-abu, panggul yang berkisar dari cokelat pucat buff, dan undertail yang mungkin putih atau kuning.

Matanya yang memiliki motif lingkaran putih tampak disatukan garis hitam yang memberikan kesan galak. Burung itu hidup di Selandia Baru, Australia maupun Kepulauan Pasifik, termasuk Fiji.

Ini Suaranya.



wikipedia
Baca Selengkapnya >>
Hobi Burung Kicau Mania | Komunitas Pecinta Hobi Burung BerkicauUpdated at: 19.37
eXTReMe Tracker